Pages

Sunday, March 27, 2011

Gery

Itu nama kucingg kita.

Lucu, kadang-kadang bawel, kadang-kadang pendiam dan hoby ngumpet dibawah meja kosan kamu.

Yang tak tertulis

hm...
Langit temaram ungu pada saat itu..
tak lain yang ku lihat hanya sebuah gurat senyum angkuh menawan,
mata coklat terang berkacamata bingkai tegas,
hidung tak melulu mancung,
sawo matang tertempel disekujur tubuhnya.

Tak dapat ku alihkan pandanganku,
meski aroma coklat panas menari indah tepat dipenciumanku,
aku jauh masuk dalam pesona biru tua, tampak gurat zambrut berkilat,
tak lebih 2meter kami berjarak,
cukup sadar baginya untuk tau aku menelanjanginya lewat tatapan,
Perlahan cepat telah berdiri di depanku sesosok tak terduga dengan tangan sedingin es,
aku beku bersamanya,
beku bersama tatapan matanya,

Entah sejak kapan....
aku, kita berjalan bersama waktu,
aku, kita tertawa bersama canda,
aku, kita menangis bersama duka,
aku, kita berpisah bersama luka.

Bermula seperti cerita roman kacangan,
ya....aku akui itu.
tapi adakah cerita seperti aku??
ada,, mungkin itulah jawabnya..

tak sesering biasanya,
aku tak melukiskan apa-apa pada kanvas,
tak ku pajangkan di tembok berlapis marmer,

tak parnah ada yang tau tantang itu,
perasaan yang belum terartikan ini.

menempatkann diri masing-masing menjadi sahabat terdekat,
menjalani cerita menjadi kerabat.

aku mulai semuanya dengan api kecil, dengan batang korek,
setelah panas merata, ku ganti menjadi api didalam tungku dengan bara merata.
saat itu aku masih merasa bahwa tak tertoreh apa-apa.
sampai pada suatu pengalihan tak sempurna,

Lalu setelah bara cukup merata dibagian tengah,
ku lanjutkan dengan tekanan api dalam gas kecil tak berbau,
sampai pengalihan pada pengalihan berikutnya.

saat bagian tengah merta, aku sedikit besarkan nyala api untuk memanaskan bagian atas,
pada saat itu aki mendaptkan pengalihan yang sangat menyakitkan,
berkepanjangan, dan lama didalam jalan ku.

sampai pada batasnya,,
aku tak menyadari bahwa apa yang ku panaskan secara perlahan telah matang sempurna.

aku benar telah memposisikan pikirankku.

berkepanjangan kau melangkah aku tak lepas menatapmu,
tak berkesudahan aku teralihkan perasaan, ada sudut yang tetap memperhatikanmu,
kau tak pernah terdaftar didalam diary malangku.
tak pernah sedikit tergores. telah terekam jelas dipelupuk mata.

pernah aku menyesali semuanya,
tak ada wasiat berbentuk,
hanya kenangan, yang hilang.

dapatkah aku meminta satu kali, untuk segala hal yang kau tinggal pergi.
jangan kau bawa semua yang mampu ku ingat.
kenangan yang tek parnah tedokumen.